miƩrcoles, enero 25, 2006

muerto mio

Que hay en la tierra seca?
solo mi sonrisa fragil en mis labios
Que hay en el cielo desnudo?
solo mis ojos que estan mirando al muerto
mientras mi alma esta abrazando mi cuerpo
fuertemente

una poema

Me estoy arrastrando por el mundo que no tiene nombre
estoy buscando quien soy yo ahi
estoy buscando mi sueno que no tiene color
estoy buscando mi alma que esta hueca
estas tu ahi con tu mirada clara
y la sonrisa que caldea mi corazon?
eres real?
o solo la manifestacion de mi sueno?
o solo a mi misma que extende mi fantasia
con muchas difraces
con muchos asentimientos
para refrescar mi soledad

jueves, enero 19, 2006

Ibu yang menjerit

Anakku, saat ini kau hidup bersama ibu yang menjerit dalam kebisuannya. Kau hanya bisa melihat tawanya yang palsu, gurauannya yang pedih, dan senyumnya yang miris. semuanya karena sebuah ketakutan untuk membiarkanmu hidup bersama seseorang yang telah menghancurkan hidupnya dan mungkin hidupmu nanti. Sebentar lagi ibu akan membuat pedang dan tameng untuk berperang. Mungkin ibu akan gagal dan ibu akan mati meski raga ibu masih hidup. Tapi paling tidak kau nanti tidak kan menyalahkan ibu jika ibu gagal nanti karena kau akan berpikir kalau ibu telah mengerahkan semua kepahlawanannya untuk mendapatkanmu. Hidup bersamamu adalah sebuah kebahagiaan yang tak terperi. Ibu tak bisa tidur tanpa mencium aroma kecut di dahimu setelah seharian kamu berlari-lari. INi baru permulaan anakku. Ibu tidak akan menunggu untuk berjuang setelah kamu tersakiti tapi ibu akan mulai berjuang sebelum kamu disakiti. Doakan ibu tetap sehat. Kita akan tetap bersama.

martes, diciembre 20, 2005

Kecewa

Sepulang dari rumah sakit jiwa aku mampir ke toko buku. aku gerakkan kaki menuju lantai atas yang merupakan bagian buku-buku non-fiksi. Buku itu ternyata sudah lenyap. Memoar Seorang schizoprenia sudah habis. Aku kecewa banget. Entah kenapa aku jadi penasaran dengan buku itu. Aku sampai memaksa mbak yang jaga buku untuk nyariin di dalam karena aku nggak percaya kalau buku itu sudah habis. Nihil. Buku itu tetap saja habis.
Yah mungkin lain waktu. Lagipula temanku berjanji untuk meminjamkan buku itu.

lunes, diciembre 19, 2005

commenting and trackback have been added to this blog.

Berkunjung Ke Rumah Sakit Jiwa

Aku melihat mereka hari ini. Orang-orang yang tak bisa kujangkau. Ruangan yang memerangkap mereka berterali dengan satu jalan masuk yang dijaga suster -suster. Jendela berterali besi. Saat memasuki ruangan itu ruangan itu telah bicara kepadaku "Jangan pernah lari dari ruangan ini" dan itu membuat bagian belakang kepalaku berdenyut. Di pojok ruangan ada dua ruang isolasi yang tak segelap di film-film. Terlalu terang untuk disebut ruang isolasi. Salah satu dari mereka adalah seorang penulis yang telah menerbitkan sebuah buku "Memoar seorang schizoprenia" Faktanya dia juga salah satu penderita.
Dia sangat suka mencium sabun. selama aku memperhatikannya dia terus menempelkan sabun di hidungnya. Katanya itu sabun pemberian saudaranya. Kebetulan aku ditemani temanku yang menjadi dokter di situ. Dia bilang perempuan itu penyakitnya cukup berat. dia sering mengalami halusinasi dan penganut waham bahwa dirinya bisa segalanya karena dirinya adalah ratu adil. Dia mengaku bisa berkomunikasi dengan Bung Karno bahkan Ryan Hidayat.
Temanku bertanya," Mau nulis lagi mbak?"
Dia menjawab, "Iya."
"Judulnya apa?"
"Kumat."
Kami langsung menyungging senyum.
Sebenarnya dia punya garis-garis kecantikan di wajahnya, tubuh bagus padahal dia barusan melahirkan. Matanya menyorot misteri. aku bahkan tak bisa berlama-lama menatap matanya. Dia seakan bertanya, "Kenapa kamu kemari?"
Aku tak bisa berlama-lama di ruangan itu. Angin dingin menggigiti kakiku dan kepala bagian belakangku semakin berdenyut.Aku tak nyaman. Tebersit dalam pikiranku untuk mampir ke toko buku dan membeli bukunya pulang nanti.

jueves, diciembre 01, 2005

NO WAY OUT

Apakah bisa diterima seseorang membunuh demi cinta? Apakah cinta bisa menyakiti orang lain? Dan apakah benar demi cinta kita dibenarkan melakukan kejahatan?
Kadang seseorang bisa disebut maniak atau psikopat ketika dia tidak lagi melihat norma sosial, nilai sosial, dan hukum masyarakat demi mencapai tujuannya yang selalu berujung dengan cinta. Dan apa yang harus kita lakukan jika kita bertemu dengan orang model begini? Sulit. Memang sulit. Dia layaknya manusia normal lain yang sepertinya tidak mengancam. dan bahkan dia tidak sadar bahwa dirinya "sakit". Dia akan membuntutimu terus layaknya udara yang selalu kauhirup tanpa kau sadar kau telah menghirup racun yang akan membunuhmu sewaktu-waktu. Bahkan ketika kau sedang terlelap dia bisa berdiri di sudut kamarmu diam-diam dan memperhatikanmu dengan tatapan penuh kilatan misteri. Apa yang dia lakukan adalah karena cinta yang penuh obsesi. Bahkan ketika dia telah menjadi pasanganmu apapun yang dia lakukan adalah demi cinta. Memukulmu, menjambakmu, menendangmu, bahkan membunuhmu adalah demi cinta. Lalu kamu akan lari kemana? Ketakutan itu akan terus menguntitmu. Dia akan menemukanmu dengan sangat mudah. Baumu yang menguap di udara adalah jejak yang terlalu mudah. Kau tidak bisa berlari. Yang kau lakukan adalah memusnahkan ketakutan itu meski kau harus membayar dengan nyawamu. Kebebasan adalah segalanya dan kau berhak mendapatkannya.Kau tahu? Kematian dan kebebasan adalah garis tipis yang samar. Terlalu samar hingga ketika kau mati demi lesapnya ketakutan, itu sama saja kau telah meraih dua-duanya. Kematian dan Kebebasan. Akan kau sadari sekali lagi jika kau berhubungan dengan seorang psikopat maka neraka telah menyentuhmu. No way out.

lunes, noviembre 28, 2005

Gemes...Gemes

Ketika aku bertemu dengan seorang teman di sebuah kantin Sastra yang sering kami sebut juga dengan Bonbin (banyak binatang berkaki dua yang makan di sana) aku segera menanyakan kabarnya dan dia menjawab kalau dia sekarang sedang menulis untuk suatu penerbit. Aku kemudian menanyakan royalti di penerbit itu jika mengirimkan tulisan ke sana. Temanku sama sekali tidak tahu royalti yang bakalan dia terima nanti. Dan ketika aku menanyakan hal-hal seputar penerbitan lebih lanjut dia sama sekali tidak memuaskan pertanyaanku. Temanku sama sekali tidak tahu royalti yang akan dia terima, berapa eksemplar yang dicetak, distributor penerbit itu, dan berapa persen uang muka yang dia terima dari royaltinya setelah bukunya terbit. Aku langsung gemes dan tidak bertanya lagi. Bagaimana mungkin dia menyodorkan tulisannya untuk sebuah penerbit yang sama sekali dia tidak tahu latar belakangnya. Dia membela diri dengan berkata bahwa dia hanya pengen punya pengalaman kerja saja (kebetulan dia diharuskan masuk sesuai jam kantor saat menulis bukunya) tanpa mempedulikan uang. Aku semakin gemes. ini bukan hanya persoalan uang tapi mengenai bagaimana kita menghargai karya kita dan diri kita sendiri. Semakin kita tidak mau tahu tentang penerbit yang menerima karya kita maka kita akan mudah diinjak-injak. Penulis juga manusia (Kok terdengar usang ya? Biarin!). Kadang ketika penulis mendengar bahwa karyanya bakalan diterbitkan dia segera melayang di udara dan tidak peduli buku itu bakalan diapain sama penerbit. Dalam bahasa jawanya pasrah bongkokan. Bahkan kadang surat kontrak hanya sekedar formalitas saja. Buku yang seharusnya dialokasikan untuk promo kadang disalahfungsikan oleh penerbit dengan menjualnya bukan dalam tataran promosi misalnya via launching, talkshow di radio-radio, dsb. Penulis tidak mau tahu dan tidak mencoba cari tahu kemana larinya buku itu karena sebenarnya buku jatah promo yang dijual itu seharusnya masuk royalti penulis. Itu yang sering saya dengar dari teman-teman sesama penulis. Dan ternyata sulit juga mencari penerbit yang kompeten dan bertanggungjawab. Sebaiknya dimulai dari penulis sendiri untuk mencoba menghargai karyanya dengan memasang harga yang pantas. Bukankah sudah waktunya seperti itu?

domingo, noviembre 20, 2005

Sebuah novel adaptasi MISSING by Ruwi Meita

SINOPSIS
Maya adalah seorang perempuan muda yang diberi anugerah mata ketiga. dia bisa menjadikan tubuhnya sebagai medium spirit bagi roh orang yang sudah meninggal hanya dengan memegang benda yang punya kaitan emosional dengan orang meninggal tersebut. Pernikahannya dengan Steven berjalan sangat dingin dan hambar. Steven tidak begitu memahami keistimewaan istrinya sehingga dia tidak bisa mengerti dengan kondisi Maya yang sering ketakutan karena sering mengalami penampakan-penampakan. Permasalahan dimulai saat Syeven secara tidak sengaja mengunci seorang bocah bernama Vega di dalam bagasinya yang dibiarkan renggang saat sedang memoto patung-patung di taman. Vega saat itu sedang bermain petak umpet bersama teman-temannya dan bersembunyi dalam bagasi Steven. Dia terkunci di sana selama dua hari. Pada suatu pagi yang suram Maya mendapat vision bahwa anak itu ada di dalam bagasi Steven dan dia pun membuktikannya. Steven dan Maya sangat terkejut karena menemukan Vega telah meringkuk kaku dengan wajah memucat. Lalu apa yang akan terjadi kemudian? Benarkah Vega telah mati? Dan bagaimana nasib Maya dan Steven?

TENTANG NOVEL DAN FILM MISSING
Novel ini diadaptasi dari skenario yang ditulis oleh Ery Sofid dan telah diangkat ke layar lebar. Filmnya sendiri diproduksi oleh Starvision Plus dan dibintangi bintang film langganan film horor seperti Endhita, Inong, dan Marcela Zalianti.
Novelnya sendiri ditulis oleh Ruwi Meita yang sebelumnya menulis novel adapatasi Dara Manisku the end of the story. Novel Missing yang diterbitkan oleh gagas Media ini menjadi best seller di Yogyakarta.